BPBD Jateng: Puncak Kekeringan Diprediksi Agustus 2026, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

JEPARA, Penamerak.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Sejumlah daerah, seperti Grobogan, Jepara, Demak, Kudus, Pati, hingga Wonogiri, diprediksi masih berpotensi mengalami krisis air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan bahwa meskipun ancaman kekeringan masih membayangi, kondisi cadangan air di sejumlah bendungan dan waduk di Jawa Tengah hingga saat ini masih dalam kondisi aman.

Ia menjelaskan, beberapa wilayah di Kabupaten Demak, khususnya Kecamatan Guntur dan Karangawen, hampir setiap tahun menjadi daerah langganan kekeringan. Oleh karena itu, komunikasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah dinilai menjadi faktor penting agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

“Daerah seperti Guntur dan Karangawen di Demak hampir setiap tahun menghadapi persoalan kekeringan. Karena itu, komunikasi masyarakat dengan pemerintah menjadi hal yang sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ujar Bergas dalam kegiatan Prime Topic bersama DPRD Jawa Tengah di Kabupaten Jepara.

Selain Demak, beberapa wilayah lain yang memiliki waduk juga tetap berpotensi mengalami kekurangan air apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. BPBD mengimbau masyarakat segera melaporkan kondisi di lapangan apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga distribusi bantuan dapat segera dilakukan.

Sementara itu, Ketua Pokja Operasi dan Pemeliharaan Balai PSDA Jratun Seluna Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, Syam Sahida Ali Mustofa, memastikan kondisi tampungan air di bendungan masih berada pada level yang relatif aman.

Menurutnya, dari 12 bendungan besar yang ada di Jawa Tengah, hanya satu bendungan yang memiliki volume tampungan di bawah rata-rata. Sementara 11 bendungan lainnya masih memiliki cadangan air yang cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

Selain itu, Jawa Tengah juga didukung oleh sekitar 38 waduk yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta 172 embung milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang tersebar di 35 kabupaten dan kota.

Syam mengingatkan para petani agar menyesuaikan pola tanam pada musim tanam ketiga yang berlangsung selama Juni hingga Agustus. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan air irigasi dengan ketersediaan air di bendungan.

“Permintaan air harus seimbang dengan ketersediaan air di bendung. Untuk musim kemarau, pola tanam perlu disesuaikan agar tidak terjadi kekurangan air bagi lahan pertanian,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap keberadaan bendungan, waduk, dan embung yang tersebar di berbagai daerah mampu meminimalkan dampak kekeringan, menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat, serta mendukung keberlangsungan sektor pertanian sepanjang musim kemarau 2026.

Masyarakat di daerah yang berpotensi terdampak juga diimbau menggunakan air secara bijak, menghemat konsumsi air bersih, serta segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah apabila mulai terjadi kekurangan pasokan air agar penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi semakin memburuk.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *